Pemerintah melalui Satgas kini tengah gencar menagih para kreditur penerima Bantuan Likuiditas atau yang ditaksir merugikan Ratusan Triliun Rupiah.

Namun terkuak fakta dari Andri Tedjadharma, seorang pengusaha eks pemilik Centris (BCI) yang turut ditagih sebesar Rp4 Triliun melalui Kantor Pelayanan Kekayaan dan Lelang atau I.

Andri menyatakan bahwa penagihan terhadap dirinya tanpa disadari malah membangkitkan skandal di dalam yang sudah terkubur lama selama 25 Tahun.

“Penagihan yang dilakukan KPKNL I terhadap Centris, membangkitkan skandal yang terkubur selama 25 Tahun lamanya,” ujar Andri kepada pada, Senin, 21 Agustus di KPKNL I Senen, Jakarta Pusat.

Andri mengungkapkan bahwa skandal tersebut adalah adanya praktik di dalam yang direkayasa elite di masa itu yang menumbalkan miliknya dan membuat dirinya dituduh menerima padahal kenyataannya tidak.

telah membuat nomor rekening rekayasa yang mempunyai nama serupa yaitu Centris selain milik kami dan tanpa sepengetahuan kami,” beber Andri usai menemui KPKNL I.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Andri pun memaparkan bahwa nomor rekening Centris miliknya adalah no. 523.551.0016 sementara no rekening rekayasa buatan oknum tersebut adalah no. 523.551.000.

Andri mengenang keanehan ini justru diketahui oleh dirinya saat dirinya digugat oleh Badan Penyehatan (BPPN) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

PN Jakarta Selatan kemudian mengeluarkan putusan no. 350/pdt.G/2000/PN.JAK.SEL yang menyatakan Andri dan BCI tidak terbukti menerima aliran tapi rekayasa itulah yang menerimanya.

Keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Mengadili Menolak Gugatan BPPN kepada Centris dan Andri Tedjadharma (/Dok. AndriTedjadharma)

Andri juga mengaku aneh lantaran Centris sendiri dibekukan asetnya dan ditutup operasionalnya oleh BPPN melalui Keputusan atau SK BPPN nomor 15/BPPN/1998 pada 4 1998.

SK Penutupan Centris oleh BPPN (/Dok. AndriTedjadharma)

“Saya heran mengapa saya ditutup namun operasionalnya masih berjalan dan ternyata diketahui dari fakta persidangan melalui audit BPK ada nomor rekening selain rekening yang kami ketahui,” tutur Andri.

Andri sendiri menegaskan dirinya tidak pernah menerima seperak pun Bantuan Likuiditas sehingga dia tidak mau menandatangani Akta Perjanjian Utang atau APU) yang disyarakatkan saat itu.

Centris saat itu sehat tidak bersaldo merah, kenapa harus menerima bantuan namun anehnya kami malah ditutup,” imbuhnya.

Andri kembali menceritakan bahwa banknya bisa bersaldo biru karena melakukan call money, atau saling pinjam antar dengan pengembalian tempo satu hari.