Ketika berjuang untuk , para pendiri bangsa menghadapi tantangan besar dalam menentukan dasar yang akan menjadi fondasi bagi Republik yang baru lahir. Di antara para pendiri tersebut, terdapat perbedaan pandangan yang mencolok mengenai apa yang seharusnya menjadi dasar .

Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno adalah tiga tokoh yang paling berpengaruh dalam diskusi ini. Mereka masing-masing mengemukakan ide-ide yang berbeda selama sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan (BPUPKI).

Mohammad Yamin mengusulkan lima dasar yang mencakup aspek , kemanusiaan, , kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat. Yamin menekankan pentingnya Yang Maha Esa dan , serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat .

Soepomo membawa tentang kekeluargaan dan yang inklusif, yang tidak hanya mengutamakan golongan terbesar atau terkuat, tetapi juga mengakomodasi semua lapisan . Konsep-konsep seperti , kekeluargaan, lahir batin, musyawarah, dan keadilan rakyat menjadi pusat usulannya.

Soekarno, dengan pandangan yang lebih filosofis, berpendapat bahwa dasar harus mencerminkan seluruh rakyat . Beliau mengajukan konsep , internasionalisme, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan yang berkebudayaan.

Perbedaan pandangan ini akhirnya menyumbang pada pembentukan sebagai dasar yang kita kenal saat ini. adalah hasil sintesis dari berbagai yang diajukan, mencerminkan dan bangsa . tidak hanya menjadi dasar tetapi juga panduan bagi dan tindakan seluruh rakyat .

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perbedaan pandangan para pendiri bangsa ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda, setiap usulan memiliki tujuan yang sama: menciptakan yang , bersatu, adil, dan makmur. Ini adalah bukti dari semangat kebersamaan dan kebinekaan yang menjadi ciri khas bangsa .