Penyebutan istilah hingga Bani Israil kerap terdengar bersamaan dengan dan yang terus memanas akhir-akhir ini. Di sisi lain, bagaimana sebetulnya Al- dan tafsir menjelaskan dan membedakan kedua istilah tersebut? Bagaimana pula asal mula keduanya identik dengan penjajahan?

, dalam ceramahnya pada kanal Bayt Al-, turut memberikan penjelasan seputar pengertian Bani Israil, , serta kaitannya dengan istilah ahlul bait, sebagaimana dijelaskan dalam perspektif Al- dan tafsir.

Bani Israil merupakan sebutan yang digunakkan untuk menunjukkan orang-orang dari keturunan Nabi Yakub yang telah hidup sebelum zaman . Dalam hal ini, penggunaan istilah Bani Israil dalam Al- dapat merujuk pada orang-orang baik maupun buruk.

Sementara digunakkan untuk menunjukkan orang-orang dari keturunan Yahuda, yakni satu dari 12 Nabi Yakub , yang hidup bersamaan dengan masa . Perbedaanya dengan Bani Israil, istilah dalam Al- sudah pasti merujuk pada orang-orang buruk dan jahat.

Meski begitu, menjelaskan bahwa keturunan dapat pula bersifat baik dan disebut menggunakkan istilah Ahlul Bait. Sebutan ini merujuk pada orang-orang penganut kitab suci (termasuk didalamnya Nasrani dan ) yang dapat bersifat baik maupun buruk.

menjelaskan bahwa menjadi kaum yang dibenci sejak dulu karena sifatnya yang angkuh, egois, dan materialistik. Hal ini menjadikan kaum diperangi, sebagaimana masa Hitler membantai , sehingga mereka tidak dapat bersatu dan hidup berpencar dari golongannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hingga dalam sejarahnya, bergejolaknya dunia pertama menjadikan menteri luar negeri Inggris menjanjikan mendapatkan tanah dan menjadi sebuah negara. Dalam perjanjian ini, Inggris menjanjikan tiga tanah untuk , yakni Argentina, Uganda, dan .

Pilihan kemudian jatuh kepada . Mereka kemudian mencari alasan berbasis untuk membenarkan penjajahan mereka disana. Dalam hal ini, menggunakkan isi dari perjanjian lama yang mereka artikan bahwa dijanjikan Tuhan sebuah negeri yang dulu dikuasai nabi-nabi mereka, seperti Sulaiman dan Daud .

kemudian menjelaskan bahwa pada dasarnya tanah yang dijanjikan tersebut disebutkan dalam perjanjian lama dengan istilah ardil muqaddas (tanah yang suci) dan merujuk pada pemberian Tuhan kepada orang-orang Arab dari keturunan Nabi Ibrahim .   

Meski mengetahui hal ini, kaum tetap bersikeras dan menyebut bahwa - Nabi Ibrahim berasal dari pernikahannya bersama seorang budak, sehingga - tersebut mengikuti status ibunya dan tidak berhak atas tanah tersebut.

Maka setelah Inggris dan sekutunya meraih kemenangan, Inggris mempersilahkan untuk mengambil tanah . Inggris bahkan membiarkan pertumpahan terjadi antara kedua negara tersebut dibanding melakukan mediasi agar keduanya dapat hidup berdampingan. Sejak saat itulah terus terusir dari tanahnya sendiri akibat perlakuan zalim orang-orang