naik pada Senin (2/10) pagi. Penguatan terjadi seiring perhatian pemodal pada prospek pasokan global yang mana dimaksud ketat lalu Pemerintah () yang dimaksud terhindar dari penutupan operasi (shutdown).

Tercatat, nilai minyak mentah berjangka Brent untuk naik 18 sen, atau 0,2 persen, menjadi US$92,38 per barel pada 00.37 GMT usai turun 90 sen pada Jumat lalu.

Penguatan juga terjadi pada biaya minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebesar 23 sen, atau 0,3 persen, menjadi US$91,02 per barel, setelah sempat turun 92 sen pada akhir pekan lalu.

Kedua nilai minyak acuan hal hal itu menguat hampir 30 persen pada kuartal ketiga pada tengah perkiraan defisit pasokan minyak mentah yang digunakan hal itu besar pada kuartal keempat setelah serta memperpanjang pengurangan pasokan tambahan hingga akhir tahun.

Empat sumber Reuters mengatakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama kemudian juga sekutu lainnya, atau OPEC+, kemungkinan tidaklah akan mengubah produksi oleh sebab itu pasokan yang mana mana lebih besar besar ketat lalu peningkatan permintaan menggerakkan reli minyak.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Harga minyak memulai minggu ini dengan catatan yang hal itu kuat pada tengah kegelisahan pasokan juga tidaklah adanya perubahan yang digunakan hal tersebut diharapkan oleh OPEC+, sementara penghindaran penutupan pemerintah pada akhir pekan memberikan sedikit kelegaan,” kata Hiroyuki Kikukawa, NS Trading, salah satu unit Nissan Sekuritas seperti dilansir Reuters.

Selain itu, keputusan di dalam tempat menit-menit terakhir oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Partai Republik Kevin McCarthy yang dimaksud memohon Partai Demokrat untuk meloloskan undang-undang pendanaan jangka pendek menggalakkan risiko penutupan hingga pertengahan November, yang tersebut digunakan berarti lebih tinggi besar dari 4 jt pekerja di dalam area pemerintah federal dapat mengandalkan gaji yang dimaksud digunakan berkelanjutan.

Memperkuat keresahan pasokan, Baker Hughes mencatat jumlah keseluruhan keseluruhan rig minyak lalu gas , yang digunakan yang disebut merupakan indikator awal produksi pada masa depan, turun tujuh menjadi 623 dalam pekan yang hal tersebut berakhir 29 September, terendah sejak Februari 2022.

Lebih lanjut, berdasarkan survei terhadap 42 , nilai Brent diperkirakan rata-rata US$89,85 per barel pada kuartal keempat lalu US$86,45 pada 2024/

Sementara itu, pemodal tetap berhati-hati terhadap perekonomian . Pasalnya, survei sektor swasta menunjukkan aktivitas pabrik dalam negara yang digunakan berkembang lebih lanjut banyak lambat pada lalu September seiring permintaan eksternal yang mana hal tersebut lesu.

Negara dengan perekonomian terbesar kedua pada dunia ini menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah serangkaian langkah-langkah yang dimaksud mana sederhana, tetapi prospeknya dibayangi oleh kemerosotan properti, penurunan kemudian tingginya kaum muda, sehingga meningkatkan keresahan akan lemahnya permintaan unsur bakar.

Sumber CNN

by Jakarta Inside