– Penjabat (Pj) Gubernur DKI telah menyatakan bahwa ia tidak akan menerapkan selama 24 jam sebagai solusi untuk mengatasi di Ibu Kota.

Heru menjelaskan bahwa jika diberlakukan sepanjang waktu, aktivitas akan terganggu, seperti orang tua yang akan kesulitan membawa mereka ke rumah sakit.

“Saya tidak akan menambah untuk 24 jam, itu perlu kajian,” kata Heru kepada wartawan di Barat, Minggu.

Meskipun ia mengakui bahwa ide tersebut memiliki potensi yang baik, Heru berpendapat bahwa perlu ada penelitian lebih lanjut dengan pertimbangan yang matang agar tersebut dapat memberikan dampak positif bagi .

Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur DKI telah menyatakan kesiapannya untuk bertemu dengan sejumlah kepala daerah di wilayah penyangga , seperti , , , dan Bogor, guna membahas skema selama 24 jam.

“Kami bahas minggu depan,” kata Heru usai menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-20 Rumah Susun (Rusun) Tzu Chi Cengkareng, Barat, Sabtu, 26 Agustus .

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Usulan untuk menerapkan ganjil-genap selama 24 jam masih perlu dianalisis dengan cermat, termasuk berbagai pertimbangan yang perlu dipertimbangkan.

Salah satunya adalah mempertimbangkan jumlah kendaraan yang dimiliki oleh setiap warga.

“Kami pikirkan dampaknya. Kan tidak semua punya dua atau tiga kendaraan yang nomor ganjil dan genap. Itu nanti kami pikirkan,” ujar Heru.

Ketua Komisi D , Ida Mahmudah, telah mengusulkan agar sistem (gage) di diterapkan selama 24 jam penuh untuk menjaga kualitas udara di dan mengurangi kemacetan.

“Pemerintah provinsi DKI perlu segera evaluasi bekerja dari rumah (work from home/ WFH), kalau evaluasinya sangat kecil untuk mengurangi segera ini berlaku 24 jam,” kata Ida kepada wartawan di , Kamis.

Ida mengusulkan agar waktu pelaksanaan yang semula hanya berlaku pada jam tertentu selama hari kerja, yaitu dari pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB dan dari pukul 16.00 WIB hingga 21.00 WIB, diubah menjadi berlaku sepanjang hari, mulai dari pukul 00.00 WIB hingga 23.59 WIB.