jakartainside.com –

Penerapan Artificial Intelligence untuk menimbulkan drone super canggih sebagai senjata pembunuh manusia sebentar lagi menjadi kenyataan, menurut laporan The New York Times.

Senjata otomatis yang mampu mendeteksi kemudian membidik target menggunakan Artificial Intelligence sudah dikembangkan oleh beberapa negara. Antara lain , (), dan juga .

Kritikus menyatakan ‘' menandai pengembangan Artificial Intelligence yang mana mengkhawatirkan. Hidup-mati manusia seakan diserahkan sepenuhnya ke mesin tanpa campur tangan manusia.

Beberapa negara telah dilakukan melobi untuk mengeluarkan pelarangan Artificial Intelligence pada menciptakan drone pembunuh. Namun, merupakan salah satu negara yang mana menentang negosiasi tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

, , serta Australia juga sependapat dengan . Negara-negara ini ingin pengembangan untuk kepentingan tak dibatasi, menurut laporan The Times.

“Isu ini adalah poin paling signifikan untuk masa depan kemanusiaan,” kata Alexander Kmentt, ketua negosiator Austria, untuk The Times, dikutipkan Kamis (23/11/).

“Peran manusia pada penyelenggaraan senjata merupakan isu yang tersebut fundamental, menyangkut hukum lalu etika,” ia menambahkan.

Menurut laporan yang dipublikasikan awal tahun ini, Pentagon sedang menyiapkan ribuan drone yang digunakan ditenagai untuk permintaan , disitir dari Business Insider.

Dalam pidato pada Agustus lalu, Wakil Menteri Keamanan () Kathleen Hicks menyatakan drone berbasis akan menghasilkan negara yang dimaksud dipimpin yang dimaksud unggul dibandingkan kekuatan .

“Kita akan melawan pasukan dengan pasukan kita. Namun, pasukan kita lebih besar sulit diakali, sulit dijatuhkan, sulit dikalahkan,” kata dia, menurut laporan Reuters.

Sekretaris Angkatan Udara Bebas Negeri Paman Sam Frank Kendall mengungkapkan drone berbasis Artificial Intelligence akan mempunyai kemampuan untuk menyebabkan tindakan di area bawah supervisi manusia.

“Mengandalkan tindakan manusia serta menyerahkannya terhadap mesin merupakan penentuan perihal menang juga kalah. Kita tak akan kalah,” kata dia.

“Saya rasa orang-orang tak akan menentang ini [drone ]. Sebab, ini akan memberikan keuntungan besar jikalau kita meletakkan batasannya ke manusia,” ia menambahkan.

Pada Oktober lalu, The New Scientist menyatakan drone yang mana dikontrol Artificial Intelligence telah lama dikerahkan pada peperangan negara melawan invasi . Namun, tak jelas apakah alat yang dimaksud menyebabkan kerugian ke manusia.

Pentagon tak segera menanggapi permintaan konfirmasi.

Artikel Selanjutnya Pengacara Tertipu , Dibuatkan Kasus Rekayasa

Sumber CNBC

by Jakarta Inside