jakartainside.com –

Salah satu sasaran utama pasukan di serangan ke adalah terowongan bawah yang dimaksud dibuat oleh kelompok bersenjata kelompok selama bertahun-tahun untuk merancang inti operasinya.

Terowongan yang dimaksud diyakini melintasi seluruh sepanjang beratus-ratus kilometer, serta para ahli memperkirakan kedalamannya berkisar antara 15 hingga 60 meter.

Pasukan dilaporkan menggunakan canggih tapi awas untuk mendeteksi pergerakan pada bawah .

Mereka menggunakan drone pembunuh juga robot anjing pelacak. Pengawasan tak henti-hentinya dilaksanakan oleh drone, menggunakan canggih yang digunakan menganalisis pola pergerakan lalu dapat mengenali wajah individu dan juga mencocokkannya dengan database anggota kelompok yang dimaksud diketahui untuk mengungkap banyak atau ribuan pintu masuk.

Untuk robot anjing dinamai Oketz serta Samur yang telah dilakukan dilatih melacak di terowongan sepanjang 500 kilometer.

Analis pertahanan menjelaskan menggunakan radar penetrasi kemudian juga pendeteksi gravitasi. Hal ini dilaksanakan agar merekan dapat memetakan di dalam bawah terowongan.

Namun masuk di terowongan yang dimaksud dibangun kelompok itu tak mudah. mencoba melengkapi robot-robotnya agar mampu menemukan berbagai jebakan yang digunakan.

Robot anjing yang mana disiapkan mempunyai sebagian kemampuan. Mulai dari mendeteksi bom kemudian komponen peledak, menemukan masuk, dan juga menyerang dengan menggigit tangan personil musuh.

Terowongan itu jadi salah satu fokus . sebab itu kehancurannya menjadi krusial bagi serangan balik terhadap organisasi yang menyerang negeri pada 7 Oktober lalu.

Rand Corporation mengungkapkan organisasi mempekerjakan 900 orang untuk mendirikan terowongan. Bahkan organisasi itu juga mengirimkan kelompok engineer untuk belajar ke .

Di , regu belajar berbagai hal untuk pada di terowongan. Yakni terkait persediaan , ventilasi, juga .

Terowongan yang tersebut dibangun selama hampir satu dekade. Di sana, dilaporkan tersimpan berbagai senjata lalu juga cadangan .

Selanjutnya Reaksi Petinggi -

Sumber CNBC

by Jakarta Inside