jakartainside.com – Hubungandan  kian memanas setelah serangan pasukan  pada Sabtu (7/10) lalu.

Serangan militan Palestina, , ke dikerjakan melalui darat, laut, juga udara. menyebut lebih tinggi lanjut dari 300 orang warga tewas. pun menyatakan pada Sabtu (9/10).

Sejauh ini Perserikatan Bangsa Bangsa, , Uni Eropa, Brasil, lalu mengecam serangan militan Palestina ke . Sedangkan Iran menyatakan dukungan atas serangan militan ke .

Di tengah konflik berkepanjangan, beberapa orang negara sudah mengakui , pada antaranya , Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), lalu .

Sementara itu, tak mengakui sebagai negara. Pada 1952, melalui kantor berita Antara, secara terbuka menegaskan tiada ada niatan mengakui sebagai negara akibat solidaritas atas dukungan negara-negara Arab terhadap Jakarta saat masa-masa perjuangan kemerdekaan. Saat itu, Palestina kemudian beberapa negara Arab lainnya menjadi yang dimaksud pertama mengakui kemerdekaan .

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Namun, normalisasi hubungan - dinilai hampir terealisasi di area dalam era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Saat itu, Gus Dur mengajak segenap rakyat untuk memikirkan kembali betapa pentingnya menjalin hubungan dengan demi membantu perjuangan Palestina untuk merdeka.

Menurut Gus Dur, tak mungkin berperan dalam perdamaian Palestina kemudian jika tidaklah menjalin hubungan diplomatik dengan kedua negara itu.

Sampai saat ini, pemerintah pada depan rakyat masih terus mengutuk keras kemudian menegaskan tak ada niatan menjalin hubungan dengan negara Zionis itu. Namun, laporan mengenai penjajakan hubungan diplomatik antara kedua negara kerap muncul dari laporan media-media asing, terutama media , selama beberapa tahun terakhir.

Di tengah konflik yang mana mana memanas, bagaimana kondisi perekonomian lalu Palestina?

Mengutip data Trading Economics, Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$522,03 miliar pada 2022. Jumlah itu mewakili 0,23 persen perekonomian dunia.

PDB naik setiap tahunnya, dari US$488,5 miliar (2021), US$413,27 (2020), US$402,4 miliar (2019), lalu US$376,6 miliar (2018).

Sementara PDB per kapita tercatat sebesar US$42.594 pada 2022, naik dari US$40.802 pada tahun sebelumnya.

Di tengah kenaikan PDB, inflasi tercatat fluktuatif. Pada Agustus 2023, inflasi mencapai 4,1 persen, naik dari 3,3 persen pada Juli 2023. Sementara pada Juni inflasi mencapai 4,2 persen, 4,6 persen pada Mei, serta 5 persen pada .

Pada 2022, total penduduk mencapai 9,6 jt orang, naik dari 9,3 jt pada tahun sebelumnya. Melansir situs Kementerian Luar Negeri , industri negara hal itu saat ini didominasi oleh .

Berbeda dengan kebanyakan negara maju yang mana itu total agregat pekerja di tempat dalam industri tetap stabil atau berkurang pada awal 1990-an, jumlah agregat agregat orang yang mana digunakan bekerja pada dalam terus bertambah, dengan lebih tinggi besar dari 25 persen tenaga kerja industri bekerja di tempat area bidang berteknologi tinggi.

Dalam dua dekade terakhir, hasil industri sudah mencapai kemajuan tingkat pada bidang elektronik medis, agroteknologi, , substansi , perangkat keras serta perangkat lunak , serta pemotongan kemudian pemolesan berlian.

Palestina

Sementara itu, Palestina memiliki PDB sebesar US$19,11 miliar pada 2022, naik dari US$18,11 miliar (2021), US$15,53 miliar (2020), US$17,13 miliar (2019), juga juga US$16,28 miliar (2018).

Sedangkan, PDB per kapitanya mencapai US$3.095 pada 2022, naik dari US$3.051 pada tahun sebelumnya.

Sementara inflasi Palestina terus meningkat, yaitu 4,9 persen (Agustus 2023), 3,63 persen (Juli 2023), 3,11 persen (Juni 2023), serta juga 3,86 persen (Mei 2023).

Mengutip laporan , perekonomian negara berpopulasi 5,4 jt orang itu diperkirakan akan melemah pada tahun ini. Meskipun perekonomian terus meningkat sebesar 4 persen pada 2022, ketegangan pada wilayah Palestina serta juga dampak invasi ke terus menimbulkan risiko penurunan yang tersebut dimaksud signifikan.

Sumber CNN

by Jakarta Inside