jakartainside.com –

Belum lama ini, Menteri Kominfo mengupayakan konsolidasi pada industri . Dia mengatakan untuk melakukan merger, dengan salah satu opsinya bersama .

“Kan konsolidasi sebetulnya baik untuk industri. Pak menteri katakan idealnya tiga operator, jadi memang konsolidasi baik untuk industri kemudian sanggup buat industri tambahan lanjut sehat,” kata Dian ditemui Syukuran Anniversary 27th, di tempat dalam , Senin (9/10/).

Dia tak menyembut permasalahan konsolidasi dengan . Namun belaka mengatakan share holder lah yang dimaksud banyak terlibat terkait hal tersebut.

“Jadi sampai saat ini sebagai manajemen tak banyak terlibat lalu sebab terlibat share holder antara holder melakukan hal tersebut. Kalau mau lebih banyak lanjut lanjut informasinya tambahan ke Axiata. Hanya memang dari support kalau terjadi konsolidasi,” ungkapnya.

Sebelumnya, Budi Arie menyokong terjadinya konsolidasi. Dia menargetkan untuk industri cuma miliki tiga operator demi industri yang dimaksud dimaksud lebih lanjut tinggi efisien kemudian sehat.

Konsolidasi akan menimbulkan peningkatan kualitas pada pelanggan. Termasuk jaringan tambahan banyak kuat kemudian efisiensi biaya.

“Konsolidasi harus tercipta untuk menjadi 3 operator sehingga terjadi peningkatan kualitas pelanggan , jaringan yang dimaksud mana lebih besar tinggi kuat serta efisiensi biaya,” kata Budi Arie.

Budi Arie menyokong , dapat dengan atau maupun . Dia juga menjanjikan pemerintah akan memfasilitasi proses merger dengan operator lain.

Bukan Perkawinan Pertama

Jika jadi dengan Smarftren, ini bukan ‘perkawinan' pertama bagi . Pada 2014, resmi merger dengan .

Dilansir dari Detik.com, meminang dengan tarif US$865 juta. Saat itu juga diatur dapat menggunakan frekuensi 15 Mhz yang tersebut mana dimiliki pada spektrum 1.800 Mhz.

Selain itu spektrum 10 Mhz yang digunakan dimaksud dimiliki pada 2.100 Mhz direncanakan untuk dilelang 3G.

Tahun lalu, kemudian Axiata Group Berhad juga sudah mengakuisisi bersama 66,03% Linknet. Harganya sekitar RM 2,63 miliar atau Rp 8,72 triliun.

Setelah akuisisi selesai, Axiata Investments () Sdn Bhd (AII), perusahaan yang mana digunakan secara bukan langsung dimiliki Axiata, serta memegang 46,03% kemudian juga 20% dari gabungan seluruh 66,03%. itu tadinya dimiliki Link Dewa Pte. Ltd. (36,99%) kemudian PT First Media Tbk (29,04%), entitas Grup Lippo.


Sumber CNBC

by Jakarta Inside