jakartainside.com –

, CNBC Ambisi memulai koloni pada luar Bumi mempunyai banyak tantangan selain mengenai serta . Sebuah  selama Belanda mencari agar bisa saja melahirkan bayi dengan selamat di area luar angkasa.

Egberd Edelbroek mendirikan Spaceborn United,  yang fokus meneliti luar angkasa dengan tujuan memungkinkan “pembuahan” alami kemudian kelahiran bayi di dalam dengan gravitasi rendah di area Mars.

Ia menyadari bahwa proses reproduksi yang dimaksud aman di tempat luar angkasa, mulai dari hubungan seksual hingga kelahiran, sangat berat. Namun, ia yakin bisa jadi mewujudkannya pada masa hidupnya.

“Sangat penting Bumi serta umat bisa saja menjadi spesies multi-planet,” kata Edelbroek kepada AFP, dikutipkan Rabu (22/11/). “Jika kita ingin mempunyai pemukiman yang dimaksud independen di dalam luar Bumi, kita harus mencari dari hambatan reproduksi.”

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Salah satu permasalahan utama pada reproduksi di tempat luar Bumi adalah gravitasi. Tanpa gravitasi, atau dengan level gravitasi yang berbeda, proses pembuahan ovum oleh sperma sulit terjadi.

Untuk mencari dari permasalahan ini, Spaceborn mengembangkan perangkat sejenis IVF, tempat fertilisasi ovum lalu embrio tumbuh. yang dimaksud “diputar” untuk mereplikasi gravitasi Bumi. Kini, perangkat yang dimaksud mulai digunakan untuk bereksperimen dengan gamete (sel reproduksi) tikus.

“Ini seperti stasiun luar angkasa untuk sel,” kata Aqeel Shamsul, CEO Frontier Space Technologies yang mana bekerja bersatu Spaceborn di eksperimen ini.

Embrio hasil pembuahan dalam luar angkasa kemudian dibekukan, untuk menghentikan sementara proses pertumbuhannya sekaligus untuk melindungi merekan di perjalanan kembali ke Bumi.

“Bakal sejumlah guncangan dan juga getaran, berbagai G-forces. Embrio tiada dapat terlalu terpapar dengan semua ini,” kata Edelbroek.

Rencananya, perangkat juga sel reproduksi tikus, diperkenalkan pada akhir tahun depan ke luar angkasa. Uji coba dengan embrio akan dilaksanakan 5-6 tahun setelahnya.

Pada Agustus 2021, Spaceborn telah mengirim 720 embrio tikus ke stasiun luar angkasa. Eksperimen direncanakan hingga embrio yang dimaksud meningkat ke tahap blastocyst.

Dalam eksperimen tersebut, bahaya dari reproduksi di dalam luar angkasa terbukti. Hanya 23,6 persen dari embrio tikus yang diinkubasi pada luar angkasa sanggup mencapai tahap blastocyst. Hanya 29,5 persen dari embrio yang mana diinkubasi yang selamat.

Di sisi lain, embrio yang tersebut diinkubasi di Bumi punya kesempatan mencapai tahap blastocyst sebesar 61,2 persen.

Artikel Selanjutnya Badai PHK Hantam , Efek Pandemi Berakhir?

Sumber CNBC

by Jakarta Inside