JakartainsideCom–Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap komunikasi yang dilakukan Kantor Staf Presiden (KSP) terkait respons Indonesia atas kebijakan tarif impor baru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut Rocky, respons pemerintah terlalu dangkal dan tidak nyambung dengan realitas global yang sedang terjadi. Ia menyebut komunikasi Istana “konyol” karena hanya mengandalkan narasi hilirisasi untuk menghadapi persoalan serius seperti perang dagang.
Dalam video yang diunggah di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Jumat (4/4), Rocky menilai bahwa pemerintah terlihat gelisah menghadapi situasi ini, namun tidak punya pemahaman utuh mengenai dinamika global yang sedang berlangsung.
“Kita bisa lihat betapa pemerintah sebenarnya kebingungan karena target-target ekonomi Indonesia tidak mampu beradaptasi dengan kebijakan tarif Trump. Di Amerika sendiri, hari diberlakukannya tarif ini disebut sebagai ‘hari pembebasan’, karena dianggap sebagai upaya untuk membebaskan produk AS dari aturan persaingan global,” ujar Rocky.
Ia menambahkan bahwa negara–negara lain justru sibuk berebut datang ke Washington untuk membuka jalur negosiasi langsung dengan Trump, sedangkan Indonesia justru sibuk dengan jargon domestik yang tidak relevan.
“Komunikasi Istana hanya bicara hilirisasi. Seolah itu bisa jadi solusi atas perang dagang yang kompleks. Padahal mereka jelas-jelas tidak memahami konteks global. Dan itu membuat kita bertanya-tanya, apakah para juru bicara presiden benar-benar mengerti apa yang mereka bicarakan atau sekadar asal bunyi,” kritiknya.