– Umat di tengah merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947. () mengajak umat untuk menjadikan momen ini sebagai kesempatan introspeksi diri dan menjaga harmoni di tengah .

Dalam keterangannya di , Sabtu (29/3/25), menegaskan bahwa Nyepi bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga perjalanan menuju kedamaian batin dan keharmonisan dengan . “Substansi utama Nyepi adalah proses penyucian diri dan semesta melalui keheningan. Sebagaimana disebut dalam kitab suci , penyucian dapat dilakukan melalui , kebenaran, tapa brata, dan pengetahuan yang benar,” ujar .

Menurut , Nyepi menjadi kesempatan bagi umat untuk membersihkan dari sifat-sifat negatif dan kembali kepada nilai-nilai yang suci dan . Ia juga menyoroti berbagai rangkaian ritual dalam perayaan Nyepi yang bertujuan menyeimbangkan dengan .

Rangkaian Nyepi diawali dengan Upacara Melasti untuk menyucikan simbol-simbol keagamaan, kemudian dilanjutkan dengan Upacara Bhuta Yajña yang bertujuan menyeimbangkan semesta. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati ).

Setelah melewati Nyepi, umat merayakan Ngembak Geni sebagai momen serta Dharma Santi sebagai ajang saling memaafkan. Tema Nyepi tahun ini, “Manawasewa Madhawasewa,” menggarisbawahi pentingnya melayani sesama sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

menutup pernyataannya dengan harapan agar perayaan Nyepi dapat membawa kedamaian bagi umat serta seluruh . “Semoga Hari Suci Nyepi membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi seluruh umat serta seluruh bangsa ,” pungkasnya.