Rocky juga menyampaikan bahwa ketidaksinkronan antara visi dan para komunikatornya menyampaikan kepada bisa memunculkan kebingungan yang lebih besar.

“Ketika bertanya bagaimana akan menghadapi lonjakan tarif dari , jawabannya malah hilirisasi. Itu jelas tidak menjawab. seperti itu justru membuat kekacauan ,” ucapnya.

Ia bahkan mempertanyakan siapa yang akan dikirim ke Washington untuk membuka dialog.

cuma kirim orang-orang yang modalnya cuma slogan ‘ ‘? Ini ekonomi , bukan pencitraan belaka,” tambah Rocky.

Kritik Rocky muncul menyusul terbaru yang menaikkan tarif impor terhadap sejumlah , termasuk .

Tarif resiprokal yang dikenakan bisa mencapai 32%, menyusul kekhawatiran terhadap defisit perdagangan yang terus membesar.

Mengutip data Kementerian Perdagangan, mencatat surplus perdagangan dengan sebesar US$ 14,34 miliar sepanjang tahun 2024, sementara versi Badan Statistik lebih tinggi, yaitu US$ 17,9 miliar.

Defisit yang tinggi itu menempatkan sebagai salah satu dari 15 dengan kontribusi defisit terbesar bagi .

Selama lima tahun terakhir, nilai ke melonjak hampir 48%, dari US$ 17,84 miliar pada 2019 menjadi US$ 26,31 miliar pada 2024. Produk-produk utama meliputi tekstil, rajut, sepatu, minyak sawit, udang, ikan, hingga peralatan elektronik.

Kenaikan inilah yang membuat AS memperketat tarifnya terhadap .

Di sisi lain, melalui , Noudhy Valdryno, menyatakan bahwa mereka sudah memiliki strategi untuk menghadapi dari .

Dalam keterangan resminya, Noudhy menyebut ada tiga gebrakan besar yang telah dirancang sejak awal pemerintahan , yaitu memperluas mitra dagang , mempercepat hilirisasi , dan memperkuat konsumsi dalam negeri.