Wacana duet  dan  di dinilai semakin sulit terwujud usai sentilan keras dari Ketua Umum PDIP .

Dalam pidatonya saat Rapat Kerja (Rakernas) ke-IV PDIP, pada Minggu (1/10), Mega mengaku bingung kemudian belaka sekali mampu melongo di dalam area rumah ketika mendengar isu tersebut. Sebab, sebagai Ketua Umum PDIP, dirinya malah tidaklah pernah tahu asal-usul wacana itu.

Mega juga mengaku heran dengan orang yang tersebut digunakan menyebarkan wacana itu juga seolah mencocok-cocokkan Ganjar lalu . Ia pun menyindir kadernya yang dimaksud itu menginginkan duet tersebut.

“Ayo, mau apa enggak (Ganjar )? Tapi nggak semua ngomong, berarti ada yang digunakan yang mau, payah, anak saya, aduh gawat,” ujar .

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai sindiran yang tersebut hal itu disampaikan Mega di dalam area hadapan kadernya itu makin memperkecil kans duet -Ganjar dalam mendatang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia menyebut pidato yang tersebut digunakan disampaikan Mega akhir pekan kemarin menegaskan bahwa PDIP sudah siap untuk bertanding. Termasuk jika harus berhadapan dengan yang digunakan dimaksud diusung oleh Koalisi Maju (KIM).

“Sehingga secara eksplisit prospek menjadi atau berpasangan dengan Subianto semakin mengecil,” kata Agung saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (2/10).

Agung menilai sindiran yang dimaksud dimaksud disampaikan Mega bukannya tanpa alasan. Menurutnya, tiada sanggup cuma dipungkiri, elektabilitas Ganjar masih terus meningkat meskipun masih ada di tempat tempat bawah jika berhadapan secara langsung.

Karena itu, ia menilai Mega saat ini tengah menimbang-nimbang dengan cermat untuk Ganjar. Sebab, pendamping Ganjar akan menjadi krusial serta juga berperan penting untuk meningkatkan perolehan pernyataan Ganjar.

Agung mengatakan hal itu juga sejalan dengan pernyataan Mega yang dimaksud hal itu menegaskan sudah mengantongi nama Ganjar. Selain itu, menurutnya juga percaya diri Ganjar serta pasangannya mampu menang dalam satu putaran.

“Di titik inilah ikhtiar , sementara ini, untuk dua pasang capres tertutup. Karena saat ini masih mengemuka 3 koalisi dengan 3 capres terkuat yakni Ganjar, , serta ,” jelasnya.

Senada, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago menilai kemungkinan duet kemudian Ganjar yang mana hal itu sempat mencuat ke warga akan redup sendirinya dengan adanya sindiran tersebut.

Menurut dia, isu yang dimaksud mana beredar terkait duet pasangan yang tersebut belaka untuk menegaskan atau melanjutkan program-program pemerintahan .

“Kita lihat bahwa wacana ini dengan munculnya sindiran dari juga akan hilang dalam wacana publik. Artinya secara kesempatan wacana duet sudah semakin mengecil,” tuturnya.

Arifki memandang satu-satunya faktor yang digunakan mampu menimbulkan duet yang mana disebut terwujud apabila perolehan elektabilitas - mampu mengungguli elektabilitas Ganjar serta . Dengan begitu, koalisi Ganjar lalu merasa tak mampu melawan .

“Tapi sampai hari ini masih belum menunjukkan track record yang tersebut yang disebut cukup baik untuk bisa saja semata bertarung dalam kontestasi urusan urusan lalu memenangkannya,” kata Arifki.

“Ini yang yang menurut saya menjadi kendala bagaimana duet dari -Ganjar. Apalagi masing-masing partai sudah mendeklarasikan diri dengan mengusung Capresnya,” imbuhnya.

Selain itu, Agung mengatakan kemungkinan duet itu juga masih terhalang oleh ego masing-masing partai yang digunakan dimaksud tetap berkukuh ingin mengisi posisi capres. Menurutnya, wacana -Ganjar baru mampu jadi terwujud jika salah satu pihak ada yang digunakan rendah hati melepas posisi capres.

“Kemungkinan keduanya duet terbuka saat -Muhaimin menguat atau salah satu pihak baik PDIP ataupun legowo menjadi ,” pungkasnya.

Sampai saat ini, baru  yang sudah mengumumkan pasangannya dalam tempat  2024. Ia menggandeng Ketua Umum Muhaimin Iskandar (). Mereka bersama kemudian .

Sementara  dan Ganjar belum juga mengumumkan mereka. Saat ini,  diusung oleh , Demokrat, , PAN, Gelora, PBB, juga juga Garuda.

Lalu Ganjar diusung oleh PDIP, , Hanura, juga Perindo.

Sumber CNN

by Jakarta Inside